pembukaan

Jumat, 25 Juli 2014

MENGATASI SUATU MASALAH



Semua masalah ada jalan keluar, semua keberhasilan ada cara.  Mulai dari  keluarga, lingkungan, negara, yang penting hukum Allah/keadilan dilaksanakan, larangan dihindari, maka akan tenang dan aman, namun apabila kemungkaran dipelihara, timbullah kekacauan/permusuhan karena ulah manusia itu sendiri, apabila kebenaran ditegakkan, maka yang salah akan lenyap. Dalam QS Al Isra 81:






[17:81] Dan katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap". Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap
     
Kemenangan ummat Islam dulu, karena bersatu dalam menegakkan kebenaran, sehingga orang yang durhaka pasti kalah, karena tipu daya setan itu lemah. Allah berfirman dalam QS an Nisa 76-78:











[4:76] Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.

[4:77] Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka : "Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat !" Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata : "Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami ? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa waktu lagi ?" Katakanlah : "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.

[4:78] Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan : "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan : "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)". Katakanlah : "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun ?

     
Hidup di Dunia tidak lepas dari masalah, untuk itu membutuhkan rahmat Allah, karena Dialah yang bisa menghilangkan kesedihan dan menyembuhkan penyakit, mengabulkan do’a seseorang, terutama bagi  yang teraniaya, tidak ada tabir  yang menghalanginya (do’anya terkabul).
Untuk itu Rasul berpesan;

اتَّقِ دَعْوَةَ المَظْلُوْمِ فَإِنَّهَا لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ

“Takutlah dari do’a orang yang teraniaya, karena do’anya tidak terbatasi oleh apapun dari Allah.” (Bukhari, 26, Kitab Mazdalim, 9, bab menjauhi do’a  orang teraniaya)
                                                         

Orang yang didzalimi, do’anya terkabul. Saya pernah disakiti seseorang, karena dia hasud terhadap ni’mat Allah yang diberikan kepadaku, maka aku tidak membalas hanya berdo’a (Allaahummakfiniihaa bimaa syikta  …………..) lantas saya sebut namanya. Tidak lama dia menemui musibah besar. Bila untuk laki-laki maka dlommirnya dirobah. Sebagaimana yang masuk dalam hadis (Allaahummakfiniihii………….i as  syiktamanya perempuan tersebut u, maka aku tidak mampu membalas namun aku berdo'h orang yang hsud t, mengabulkan do' ).

Andaikan dia bisa menerima saran yang baik, maka akan ku lakukan karena ada perintah, namun diperbolehkan untuk membalas. Dalam QS An Nahl 125-126:







[16:125] Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

[16:126] Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.


Manusia tidak layak hasud/iri terhadap keni’matan orang lain, karena hal itu bisa melenyapkan kebaikan seseorang,  yang diperbolehkan iri, hanya dua perkara. Sebagaimana tercantum dalam hadis:

لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الْقُرْانَ فَهُوَ يَتْلوهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ، وَرَجُلٌ 

آتَاهُ اللهُ مَالاً فَهُوَ يُنْفِقُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ


Tidak boleh hasud, kecuali terhadap dua orang: Seorang yang diberi oleh Allah kepandaian membaca Al Quran, dan ia membacanya di waktu malam dan di waktu siang. Dan seorang yang diberi kekayaan oleh Allah dan ia menafkahkannya di waktu malam dan di waktu siang.” (Bukhari, 97 Kitab Tauhid, 45, bab sabda Nabi saw seorang yang diberi kepandaian membaca Al Qur’an dan ia mengamalkannya kepada orang lain


Dua amaliyyah tersebut, yang menyebabkan bahagia (di Dunia merasa tenang, Akhirat selamat). Karena salat penghapus dosa/penenang hati, infak bisa menghilangkan kesedihan. Kesabaran dan taqwa  yang menyebabkan selamat dari Neraka. Sebagaimana tercantum dalam QS Ali Imran 185-186:








[3:185] Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.

[3:186] Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.

Manusia tidak sadar, terkadang membeli kekafiran dengan iman yang menyebabkan datangnya adzab. Sebagaimana tercantum dalam QS Ali Imran 177-178:






[3:177] Sesungguhnya orang-orang yang menukar iman dengan kekafiran, sekali-kali mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun; dan bagi mereka azab yang pedih.

[3:178] Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan.


Kesulitan Dunia bisa diusahakan baik dengan cara ikhtiar atau berdo’a, sehingga Allah memberi sebab.  Contoh:  Ketika aku hamil yang ke 12/13, (kembar) kata bidan: “Kalau melahirkan harus di RS karena butuh operasi”. Aku tidak siap, tapi yaqin bahwa Allah akan mengabulkan do’a hamba Nya,  maka aku sering bersujud dan berdo’a (hasbiyallaahu laailaaha Illaahu 'Alaihi Tawakkaltu Wahuwa rabbul 'Arsyil 'Adziim) yang tercantum dalam QS At Taubah 129:






[9:129] Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung".


Al Hamdulillah, disebabkan bacaan itu, sehingga proses kelahirannyapun mudah (belum sempat berangkat ke RS sudah lahir) bagaikan orang yang mimpi. Sekitar 2 jam sudah beres.

Setiap kesedihan yang menimpaku, maka aku ingat bahwa Rasul membaca do’a:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Tiada Tuhan selain Allah yang Maha Agung lagi Maha pengampun, Tiada Tuhan selain Allah – Tuhan penguasa langit  dan bumi, Tuhan Arasy yang agung.[21] 7 X ( hilanglah seluruh kesedihan).


Hilang kesedihan seperti ada yang mengalihkan pandangan. Jadinya, ya gak jadi susah.

Orang Mukmin berharap agar diterima taubatnya, karena hidup hanya sekejap mata, bukan untuk bersenang –senang/mencari kebebasan. Sebagaimana sahabat yang ikut berperang dalam keadaan peceklik tetap sabar, bagi yang tidak mau ikut juga menderita (karena dibaikot oleh sahabat yang lain, tidak diajak bicara, tidak dihiraukan) akhirnya bertaubat kepada Allah dengan memperbanyak tahajjud dan bertaubat) maka dikabulkannya.  Sebagaimana tercatum dalam QS At Taubah 117-119:






[9:117] Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka,

[9:118] dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

[9:119] Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.

                                                                                     
Pantaslah dibaikot, karena semua dalam keadaan susah payah, peceklik, tetap berangkat untuk memperjuangkan agama Allah, namun tiga orang tersebut tidak mau resiko/bersenang –senang dirumah. Namun cara tersebut disalah fahamkan oleh golongan-golongan yang mengaku benar sendiri, mereka membaikot teman yang keluar. Padahal tidak boleh orang Islam permusuhan/tidak menyapa lebih dari 3 hari. Apalagi mirip-mirip kebaikannya (tidak ada yang menonjol di bidang ilmu, perjuangan, jasa kepada masyarakat).

Ingat pernyataan Rasul: Orang islam adalah orang yang tidak menyakiti saudaranya baik dengan lisan atau dengan tangannya. Amar ma’ruf nahi mungkar memang diperintah, namun menajiskan orang Islam (kebanyakan LDII). Begitu juga mengkafirkan adalah cara yang kurang tepat. Kita fahamkan dulu, dengan cara yang bijak, berangsur-angsur, sebagaimana wahyu diturunkan. Karena menerima kebenaran juga butuh waktu karena merasa berat. Nabi asalnya bingung, lantas Allah memberi hidayah, fakir lantas kaya. Sebagaimana tercantum dalam QS Ad Duha 7-8:



[93:7] Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk

[93:8] Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.


Untuk itu kita bekali/persiapkan dulu diri kita dengan ilmu dan memperbanyak kebaikan/jasa kepada orang lain, memperbanyak ibadah (berdzikir) sebagai bekal seorang Da’i. Begitulah pesan Allah kepada Rasulnya. Yang perlu diingat, adalah pesan Rasul” Barang siapa yang rendah diri, maka (derajatnya) akan diangkat oleh Allah dan barang siapa yang sombong, akan direndahkan (derajatnya) oleh Allah”.  

Bacalah Al Quran! Bagi yang membacanya dengan lancar, maka didampingi Malaikat yang mulia, adapun yang membacanya dengan terbata-bata, maka mendapat dua pahala, maka tidak benar bagi orang yang malas membaca Al Quran dengan alasan tajwidnya tidak ada yang membenarkan, meskipun ada kelebihan bagi pembaca yang baik.
                                                                                            Wassalam.
                                                                            www.faizahmahrus.blogspot.com 

  

0 komentar:

Jumlah Pengunjung

Blog Archive

About Me

Faizahmahrus
Lihat profil lengkapku
Diberdayakan oleh Blogger.

Pengunjung